mendekap gemuruh berselimut rindu
mendera ombak dengan keheningan
bermesraan dengan lembayung senja
hati ini gundah, berkata seribu bahasa
mencoba jelaskan arti kesunyian
Anginpun enggan berkata
hanya bertiup dari timur kebarat
dari pagi menuju senja
selaksa kesatria tampa senjata
juga bala tentara
ingin menangis untuk cinta,
ingin berlabuh ke ketepian
ditengah gemuruh ombak
dan lambaian topan dan badai
sampai menetes air mata
untuk kuat kan nahkoda
4 Responses to my writings
hmmm, Nice poetry…
lagi “gundah-gulana” yah
*halah bahasanya itu lho…*
waaaaa puisinya bagus sekali ya
kangen ama gw yah bro? huahuahua *GR mode ON*
Pastinya sih kangen ma Yanti. ayokk sana telpon or ajak voice chat ajah.
Untuk apa menangis karena cinta..lebih baik cinta aja yang menganis untuk kita,,OK
Seng sabar ya…cinta itu gak berujud