Yang indah adalah guratan kening saat kita memaparkan fikirian kita untuk menselaraskan jiwa kita dengan dunia.
Memaparkan, menggambarkan seseorang melalui naluri yang kita miliki adalah insting kosong yang akan membawa kita ke 1001 pertanyaan.
Kalau kita sibuk bertanya “kenapa dia….” bukankah sebaiknya kita memulai kalimat “akan kubuat engkau” ? memang terlihat jahat kan ? tapi siapa yang mendengar kalimat itu kalau bukan sang pemilik udara ?
Engkau ? maksudnya ?
Engkau cinta aku ? engkau setia ? engkau ingkar ? engkau benci ? engkau sayang ?
Yahh… Apapun lah, karena semuanya ada ditangan kita sendiri kan ? bukankah kita yang mengendalikan rasa ? Ataukah kita yang dikalahkan rasa ?
Menjalani sesuatu yang pahit membutuhkan pengorbanan, yaitu membunuh rasa, kalau engkau tahu apa yang akan dicapai, sanggupkah engkau membunuh rasa ? Atau lebih memilih menjadi budak rasa ? diperbudak oleh asa dan pikiran, dibawa oleh keadaan, dan dikendalikan oleh lingkungan, suasana dan rasa ? oh tidak……
Sebegitu lemahkah dirimu ?
Aku malah mengagumi bagaimana bunglon dapat menyatu dengan apapun, membuatnya tidak terlihat…..
Mampukah kita mengalah, mengorbankan rasa, memegang teguh janji, hanya untuk menyatu dengan keterasingan ?
Jadi…. Apakah hal yang indah itu ada ketika kita telah menjalani hal yang pahit ?
Mungkin, bagi yang sudah menjalaninya, keindahan itu ada saat rasa itu telah menjauh, menjadikan dia kenangan, menjadikanya pilar pilar sejarah kita Tentang hidup… Tentang perjalanan, tentang rasa….
Demi rasa kita memiliki 1001 alasan untuk mendeskripsikan jiwa, dan membenarkan rasa itu,
kenapa ?
Karena waktu tidak bisa kembali….. Yang sudah dilewati, tak kan terganti.
Bukankah yang indah itu ketika kita mampu menyadari jiwa kita untuk mensyukuri apa yang kita miliki ?
Bukankah kita punya mimpi ?
Sekarang jawab sendiri, apa impianmu ?
Jawab ketika hening menjelma, menyeret jiwa kedalam sunyi…. semuanya pasti akan terjawab….
Yang menjadi masalah hanyalah tanganmu…
Seberapa kuat tanganmu memegang erat mimpimu untuk dapat engkau renggut kedalam duniamu.
Dan riak gelombang, topan badai adalah musuh dihadapanmu ketika engkau harus melawan rasa…
Sanggupkah ?
Ah, Aku lebih memilih, ayo cepat….. jangan tunda lagi, mari! mari! kita habiskan episode ini secepatnya, seperti saat aku dihantui rasa untuk menghabiskan episod film seri kegemaranku denganya, membuatku mengabaikan rasa, rasa yang tidak seharusnya aku rasakan, karena aku yang memiliki rasa.
16 Responses to my writings
Ayo, jgn tunda lagi…
Karena cinta tdk bisa menunggu…
Blh ikut
intinya jangan tunda untuk mendapatkan mimpi itu ya, mas ?
yes yes … aku sedang berusaha melakukannya ^^
Intinya, kadang kala, kita harus bisa membunuh rasa dan mengabaikanya untuk mendapatkan yang terbaik untuk kita, cara membunuhnya ya dengan memegang mimpi itu dengan jelas.. hehe
Hmm..andai aja ya waktu bisa diputar kembali.
Sekarang intinya terus berusaha dalam menggapai semua impian yang kita inginkan.
Toh belum ada kata terlambat
Bukan belum ada, tapi tidak akan pernah ada kata untuk terlambat, hehe
Hhahh…ia bro, maksudnya juga itu.
kemarin salah nulis :p
kayaknya aq tau deh maksud dri ‘sweet words’ diatas.. (insting enterpreuner)
terkadang memang utk meraih suatu yg diimpikan perlu sedikit pengorbanan. mengapa harus membunuh rasa kalau rasa itu tetap dapat dipelihara dengan baik
thats why God give us brain, is also to think how to care the feels (our feels) and make everything going well. off course understanding is the ‘important key’ in our life..
thats just my little opinion^^
Ini tidak ditujukan buat saya kan?? hoho… Sama seperti yg sedang saya alami.. Hanya saja saya tidak sepandai km dalam mengungkapkan rasa dalam rangkaina kata-kata indah ini.
Saya sedang berusaha membunuh rasa itu. hikssss..
bila bersama tak ada alasan untuk menunda
salam kenal yah mas …
menangisi yang sudah lampau tidak akan membuatnya kembali…jadi teteh angat suka dengan kalimat mensyukuri apa yang kita miliki sekarang.
hanya dengan rasa syukur kita bisa merasakan keindahan itu….
kalimat-kalimatmu indah banget!
salam
sedang mencoba faslafah bunglon: mimikri. menyamarkan, meleburkan diri dengan lingkungan. apa yaa… adaptasi deh sama situasi dan kondisi. mungkin itu bisa membantu mengurangi beban pikiran
berat… rasa, setidaknya butuh sepotong coklat untuk manis, sesendok garam untuk asin dan pahit? apa cinta? hehe.
lagi kasmaran nih