MyRaffaell Blog

demo

Indonesia dan Malaysia


Karena isu ini merebak sedemikian “DAHSYAT” nya oleh media-media di Indonesia membuat saraf ku gatal untuk menulis soal Indonesia dan Malaysia yang lagi di kompor-komporin oleh Media Massa, yeah walaupun aku bukan ahli politik, bisanya ngikutin berita doang, aku coba menyimpulkan beberapa point yang terjadi di Malaysia dan Indonesia, selagi aku kerja disini, yah mungkin ada baiknya aku kasih pendapat dari perspektif aku sendiri disini.

Postingan ini merupakan bentuk rasa nasionalisme bangsa yang merasa semakin terinjak injak akibat ulah kita sendiri.

The Fact

Mengenai isu soal penangkapan KKP, faktanya kita belum tahu kenapa KKP ditangkap ? apakah pertanyaan itu muncul dibenak para pembaca media di Indonesia ? Alasanya KKP ditangkap belum jelas, dan masih di Klasifikasikan sebagai RAHASIA, lantas kita mengambil keputusan kalau Malaysia yang salah ? kenapa demikian ? Karena media media di Indonesia hanya mempublikasikan dan menyimpulkan kalau “KKP Ditangkap oleh Marine Malaysia” sisanya kalimat penghias saja. Baca tulisan mas Hendri mengenai Indonesia vs Malaysia.

Bahwa pada saat kejadian kapal patroli milik Indonesia menangkap kapan nelayan Malaysia untuk diduitin,karena “katanya” mereka sudah masuk wilayah Indonesia,cara nentuinnya gimana?pake GPS?pake patok?engga……Cara nentuinnya karena jaraknya 1 Jam perjalanan dari pantai Indonesia dan itu “biasanya” masih wilayah Indonesia….. Lalu kenapa kok polis marine Malaysia bisa datang,jadi setelah penangkapan nelayan Malaysia tsb dibawa ke kapal patroli kita,dan 3anggota kita berjaga di kapal nelayan tersebut,kemudian mereka disuruh hub keluarganya untuk nganterin duit ke koordinat yang ditunujuk,keluarga nelaya tersebut bukannya nganter duit tapi nelp PDRM.1 jam setelah penangkapan,datanglah polis marine yang langsung melepaskan tembakan peringatan dan kapal patroli kita langsung kabur dengan gagah berani.

Coba fikirkan saja sendiri, misalnya, sebuah kapal Indonesia, dengan sistem navigasi yang rusak di lautan yang luas, ngga tau mesti kemana, eh tiba tiba mereka tidak tersadar kalau mereka telah masuk perairan Malaysia, lantas saat kebingungan muncul sebuah kapal, disamperin lah kapal itu, lalu ternyata kapal itu kapal Malaysia, dan kita yang lupa kalau berada di perairan itu malah galak mau nangkap dan minta duit pula ? mungkin saja kapal nelayan itu punya surat surat lengkap, dan mereka berada di wilayah Malaysia, nah karena mereka punya hak berada di wilayahnya ya mereka berani melawan, mereka nanya dong, anda ini ada dimana ? mana surat penangkapan anda ?

Akhirnya situasinya jadi kebalik, orang kita yang ditangkap, karena kita telah melakukan kesalahan (malakin ato nangkepin orang di kampung orang itu sendiri) ?

Kedua duanya ngga ada bukti, tapi hanya KBRI dan Malaysia yang tahu kronologis ceritanya, lantas perlukah kita mengamuk ?

Media-Massa

Media di Indonesia mungkin sudah jarang memfikirkan lagi berita berdasarkan “fakta” bahkan mungkin berita yang belum ada kesimpulanya sudah publikasikan dan tentu saja dapat mempengaruhi masyarakat. Selain itu kebanyakan berita di Indonesia kebanyakan bersifat negatif, mengkritik, dan memprovokasi. Jarang sekali berita positif kita temukan saat ini, yang menjadi headline pasti yang naas naas, kenapa ? ya karena meningkatkan minat pembaca/pemirsanya.

Jadi ada baiknya Media Massa perlu lebih arif dan lebih bijak dalam mempublikasi berita, karena Pers di Indonesia memiliki “kebebasan” jangalan di salah gunakan, pers seharus nya menjadi teropong masyarakan akan wawasan, berita berdasarkan fakta, tidak mempublikasi sesuatu yang masih grey dan belum jelas dan membiarkan masyarakat menilai sendiri dalam teka teki.

Malaysia Aman

Sedangkan aku disini aman aman aja, berita berita yang dipublikasikan disini tidak begitu memprovokasi dan tidak membuat suasana menjadi tegang, ricuh, sehingga kita bisa menjalankan puasa dengan damai dan tentram. Kalau mau ngomong soal media massa disini lebih terkontrol, jadi media massa yang bebas dan terkontrol itu ada kekurangan dan kelebihanya masing masing, jadi ngga perlu aku jelaskan lagi, karena aku udah ngeliat masa masa seperti itu…

Kasus TKI Indonesia

Lagi, orang Indonesia di Malaysia itu sangat banyak, 2 juta lebih!, ada yang ilegal ada juga yang non ilegal, sudah sewajarnya kalau bakal banyak kasus kasus ini itu, pembunuhan, pemerkosaan, hukuman, dan hal hal menyakitkan lainya. Bukankah di Indonesia juga sering terjadi ? bahkan lebih parah.. Tahu ngga, Di Indonesia seorang ibu bunuh anaknya karena punya utang 20 ribu rupiah ?

Jadi yang terjadi di Malaysia juga ngga jauh beda, 100 atau 200 orang pasti terkena kasus, orang KBRI aja bisa nampung ampir ratusan kasus setiap bulanya kok. Anggaplah 1000 yang kena kasus berbanding 2 juta, tetap saja yang sedikit di publikasikan bahkan di dramatisir tampa bertanya “kenapa ?”

Contoh umum kasus di TKI di Malaysia.

Berhubung istriku sering memberikan pelatihan pendidikan di Shelter2 TKW di KBRI KL, sedikit banyak aku tau at least ada alasanya kenapa mereka kena kasus. Sebelum memberi contoh, btw aku mau jelasin soal shelter KBRI, KBRI Indonesia memiliki shelter khusus untuk menampung para pekerja Indonesia yang terkena kasus, mulai dari lari dari majikan, gaji ga di bayar, dan penyiksaan.

Seorang keluarga Malaysia, untuk mengambil pembantu dari Indonesia, mereka perlu membayar ke Agency sebesar 4 hingga 7 ribu RM, atau sekitar 21 juta! Mereka perlu mengeluarkan kocek sebanyak itu untuk dapat mengambil maid dari Indonesia, lalu setibanya maid dirumah sang majikan, pembantu tersebut tidak bisa membaca dan berhitung ? tidak bisa membaca jam ? tidak dapat mengoperasikan mesin cuci ? tidak bisa mengasuh anak ? lebih parah nya tidak bisa masak! Jadi ngapain dia datang ke Malaysia ?

Ya, itu semua karena Agency Indonesia juga banyak yang nakal, mensupply orang orang yang tidak capable dan belum ready ? otomatis banyak keluarga yang menjadi geram, dan kesal, akibatnya banyak kasus, gaji ga di bayar, bahkan ada yang sampai disiksa, mungkin aja disuruh nyetrika baju puluhan juta malah bolong bajunya….

Disiksa dan kejahatan lainya itu tetap salah, namun KBRI selalu menyelesaikan berbagai macam jenis kasus TKI, sudah ribuan kasus terselesaikan oleh KBRI, sayangnya Media Massa Indonesia kebanyakan hanya mempublikasikan soal TKI nya disiksa, namun ketika kasus TKI nya sudah selesai, sudah damai, sudah di tuntut, sudah di bayar, dan di tuntaskan oleh KBRI permasalahanya, beritanya tidak muncul di Indonesia.

Perlu diperhatikan hal itu juga terjadi hanya pada sekelumit dari TKI. TKI yang lebih dominan Adem Ayem aja…. Hal itu dapat dirasain, bahkan Ibu ibu yang udah di siksa, di setrika, dan kasusnya sudah di selesaikan tidak mau pulang ke Indonesia, malah ketika di wawancara ibu tersebut masih mau tetap dapat bekerja di Malaysia ? coba tanya kenapa ?

Jadi…

Udahlah, demo demoan yang aneh aneh itu stop aja, padahal kan lagi bulan Ramadhan, mesti bersabar, demontrasi berlebihan itu hanya akan memperlihatkan kebodohan bangsa kita sendiri, jadi apa gunanya ? Kalaupun yang berdemo demo yang berlebihan itu apakah mereka kaum intelektual ?

Masih banyak hal lain yang perlu di perhatikan, dan ngga perlu di besar besarkan.

Alangkah bagusnya kalau Malaysia dan Indonesia itu mestinya saling bersatu, berjabat tangan, karena budaya, ras, agama, hampir sama, kenapa juga mesti ribut ?

Dalam tetangga, cek cok kan biasa,  misalnya soal orang Indonesia yang nyangkut di Australia :

Dan hal hal lain yang lebih baik kita gunakan untuk membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik. Mari kita melihat hal ini dengan lebih lebih cermat, dewasa, berfikir sebelum bertindak, memastikan benar atau salah sebelum memutuskan tampa harus melakukan cara cara kekerasan. (Bukankah orang Indonesia tidak menyukai benci kekerasan ?)

Sebagai Introspeksi diri.

Ditemukan dari milis tempat para expat IT.

Sebutlah bangsa Mongolia dan bangsa Indian, setelah membaca secara mendalam sejarah kedua bangsa ini, ternyata dalam proses berakhirnya kedigjayaan mereka, terjadi tanda-tanda yang saya uraikan di berikut ini:

  1. Pejabat yang tidak amanah dan suka menyalahgunakan jabatan serta kekuasaannya
  2. Penegak hukum yang tidak adil
  3. Korupsi, kolusi, dan nepotisme menjadi budaya
  4. Agama hanya menjadi ritual kosong semata tanpa makna hakiki
  5. Disiplin tinggal cerita dan informasi papan pengumuman semata
  6. Etos kerja keras digantikan perilaku instant / ingin gampangnya saja
  7. Sukses tidak lagi dinilai dari prosesnya tetapi dilihat hasil akhirnya semata
  8. Rasa percaya diri digantikan oleh rasa rendah diri
  9. Jiwa kesatria nan arif dan bijaksana digantikan oleh jiwa pecundang yang hanya memikirkan kepentingan diri sendiri atau kelompok semata
  10. Hati nurani digantikan emosi dan amarah
  11. Menolak hal-hal baru yang berguna untuk perbaikan dan kemajuan bangsa

Apakah bangsa Indonesia sudah memiliki tanda-tanda ini?, hanya kita yang bisa menjawab dan membuktikannya.

Mari berbuat sesuatu yang lebih baik untuk negeri tercinta ini.

comments powered by Disqus